Tuesday, 21 September 2021

NKRI Bangun Narasi Terus Mengikuti Dinamika Politik Papua Merdeka

 Sejak 2014 kita dengar pemerintah Indonesia bangun narasi seperti ini:

1. ULMWP dibentuk 2014 dituduh itu LSM/NGO untuk kepentingan agenda asing dan Kapitalis.
2. Petisi 1.8 tahun 2017 diluncurkan dan diserahkan ke Komisi 24 dan komisi HAM PBB, dituduh itu agenda NGO, tidak ada agenda PBB, dan agenda Kapitalis asing.
3. Petisi dituduh sebagai agenda asing dan kapitalis, tetapi akhirnya ditiru jalan itu, tetapi gagal.
4. UUDS dibuat dan diumumkan dituduh itu agenda asing dan kepentingan kapitalis.
5. 1 Desember 2020 umumkan pemerintahan sementara ULMWP dituduh itu agenda asing dan kepentingan kapitalis.
6. Kabinet sementara diumumkan 1 Mei 2021 dituduh itu agenda asing dan agenda kapitalis.
7. Orang terbaik yang bergerak untuk kemanusiaan dan perjuangan kemerdekaan ditunjuk sebagai perwakilan perjuangan Papua, dituduh itu sebagai agenda asing dan kepentingan kapitalis.
8. Green State Vision yang digagas sebagai visi bangsa masa depan bagi keseimbangan, perdamaian, demokrasi dan keharmonisan dituduh sebagai agenda asing dan kepentingan kapitalis.
9. LSM/NGO yang bergerak atas kemanusiaan dan HAM, dituduh itu NGO bekerja kepentingan donasi asing dan kepentingan kapitalis.
Tuduhan kosong, tanpa bukti dan fakta ini menunjukkan posisi individu itu, sekarang ada dimana, dan kemana akan pergi. Kalimat-kalimat ini selalu kami dengar dari mulut penguasa Indonesia atas kegelisahan mereka.

Salam waras.


Monday, 13 September 2021

HUKUM KESEIMBANGAN

Tidak ada teori terisolasi, dalam hal tertentu saling terkoneksi diantara teori-teori yang beroposisi, ontologi di satu sisi dan teori epistemologi di sisi lain. Dengan kata lain, materialisme di satu sisi, dan idealisme di sisi lain. Teori-teori ontologi maupun epistemologi saling terkoneksi pada hukum-hukum umum dalam ilmu pengetahuan. Dalam kerangka itu, green state vision sebagai salah satu unsur dalam hukum keseimbangan yang dapat diasumsikan lintas oposisi biner antara ontologi dan epistemologi. Green State Vision dianalisa dengan metode dan teori dari dua sisi berlawanan tersebut. 

Pendekatan objektif, subjektif dan ideasional. 
Visi dari green state adalah materialisme dialektik dari dunia realita, dan kumpulan peristiwa-peristiwa di satu sisi, dan di sisi lain, kumpulan ide, gagasan, konsep, pandangan atau sistem pengetahuan manusia tentang diri dan dunianya.       
  
Orang Papua bilang manusia, tanah, flora, vauna dan alam semesta itu bagian dari tubuhnya. Karena semua asal dari satu tubuh. Mereka bilang tiap klen memiliki simbol dengan unsur di luar dirinya itu, disebut totem. Mereka bilang semua bagian tanah, sungai, gunung, flora, vauna, laut, udara dan awan itu bagian dari dirinya sendiri, dan dianggap sebagai kerabatnya. Dalam ritus tertentu semisal inisiasi mereka berhubungan dengan semua elemen itu, elemen tertentu digunakan sebagai energi atau kekuatan bagi tubuh dan jiwa mereka, karena itu manusia selalu membangun relasi melalui media tertentu. Hubungan ini dibangun demi keseimbangan antara manusia dengan elemen di luar dirinya itu. 

Dalam pandangan ini, para saintis beritahu kita bahwa tubuh manusia ini terdiri dari sejumlah elemen, dan diantara itu ada empat elemen paling besar: Oxygen, Carbon, Hydrogen, dan Nitrogen. Itu semua berasal dari tanah, tumbuhan, hewan, air, udara, dan energi dari planet lain. Struktur tubuh manusia terdiri dari elemen-elemen itu, maka manusia memiliki relasi timbal balik dengan semua elemen tersebut. Relasi timbal balik itu saling terkoneksi untuk mempertahankan keseimbangan. Satu sisi elemen-elemen itu berkontribusi terhadap kehidupan manusia, dan sebaliknya, manusia pun berkontribusi terhadap kelangsungan lingkungan, seperti tumbuh-tumbuhan dan energi bumi dalam bentuk bakteri dan fosil setelah kematiannya.  
  
Saintis juga beritahu kita bahwa, flora, vauna, tanah, air, udara merupakan satu rangkaian lingkaran, manusia, hewan dan tumbuhan terima energi dari atmosfer untuk hidup, ketika mati berubah menjadi bakteri dan masuk dalam tanah, dan bakteri itu terproses melalui tumbuh-tumbuhan, dan atau langsung ke atmosfer. Bakteri yang transfer ke tumbuhan itu masuk ke dalam tubuh manusia dan hewan melalui makanan, dan lain dibawa oleh hujan masuk ke tanah melalui proses percolation, dan mengalir ke sungai dan laut. Lalu laut mengalami evaporation atau penguapan ke udara karena energi matahari dan berubah menjadi awan dengan proses contensation, dan selanjutnya mengalami proses precipitation dan kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Proses sirkulasi ini adalah hukum keseimbangan. 

Dalam hukum dialektik Hegel, dan Marx, fenomena alam atau realita alam adalah materialisme dialektik. Manusia ingin meningkatkan kualitas hidup, kapitalis produksi besar-besaran energi dan sumber daya alam dalam sistem kapitalisme. Produksi secara kuantitas tanpa batas kemudian diproses berubah menjadi kualitas untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Semisal batu uranium diproses menjadi nuklir untuk kesejahraan manusia, atau diproses menjadi senjata kimia masal. Ini terjadi sebagai akibat dari revolusi kognisi, ke revolusi science hingga ke revolusi industri dan teknologi. Dalam proses dari kuantitatif ke kualitatif ini telah mengesampingkan hukum keseimbangan. Sebaliknya, Marx konstruksi sosialisme sebagai anti tesis kapitalisme, dan menciptakan oposisi bineri, dan sosialisme akhirnya kalah saing dari kapitalisme. Akibatnya, manusia dan planet bumi menghadapi krisis kepanasan global berkontribusi perubahan iklim global. 

Unsur terkecil disebut atom terdiri dari tiga partikel: Proton, Neutron, dan Electron. Posisi Neutron netralisir oposisi biner antara proton dan electron, dan posisi neutron dipandang sebagai keseimbangan kedua oposisi itu. Manusia dan planet bumi hari ini diperlukan keseimbangan diantara oposisi bineri itu, di satu sisi antara produksi kuantitas dan kualitas dari aktivitas manusia itu. Manusia produksi sumber daya alam dalam jumlah besar, pertambangan, eksploidasi energi, berbagai pembangunan pemukiman, infrastruktur, penebangan hutan dan perkebunan skala besar. Produksi industri, teknologi dan informasi masal dalam segala kualitas. Pada sisi lain, cadangan sumber daya alam berkurang, hutan menjadi gundul dan tandus, suhu kepanasan bumi meningkat, ekosistem rusak dan terganggu, cadangan oxsigen menipis, air laut meningkat ke permukaan bumi karena es di kutup utara cair. 

Dalam menghadapi tantangan oposisi bineri itu, Green State Vision hadir sebagai solusi dan sekaligus garansi bagi manusia untuk eksistensi dan keperlanjutan umat manusia dan planet bumi ini. Dalam pandangan ini Green State Vision diposisikan sebagai Hukum Keseimbangan yang menawarkan kepada dunia untuk menjaga keseimbangan, kedamaian dan keharmonisan antara manusia dengan elemen lain di planet ini. Hukum Keseimbangan merepresentasikan makna-makna tentang rekonsiliasi, kedamaian, keadilan, keharmonisan, perlindungan, dan kelanjutan eksistensi umat manusia dan seluruh kehidupan di planet ini.

Bangsa Papua telah ditempati di tanah ini sejak penciptaan, dan mereka menjaga, melindungi dan merawat relasi keseimbangan mereka dengan unsur lain di luar dirinya. Dalam filsafah hidup orang Papua, semua mahluk baik yang hidup maupun mati dipandang sebagai bagian dari dirinya sendiri, atau kerabatnya sendiri. Orang Papua memperlakukan mahluk-mahluk itu layaknya sebagai kerabat, menjaga, melindungi dan merawat relasi mereka secara timbal-balik, saling menguntungkan, berkeseimbangan dan keharmonisan. Hubungan mereka itu direpresentasikan melalui media-media, dan simbol-simbol kultural tertentu yang dipahami sebagai relasi dan makna keterlibatan unsur-unsur di luar manusia itu. Suatu keseimbangan dan kontinuitas itu ditentunkan oleh kesuksesan terlaksananya suatu ritus secara tepat dan benar sebagai media komunikasi antara dua arah saling diuntungkan. 

Dengan demikian tercipta keseimbangan. Karena itu, Green State Vision adalah keseimbangan bagi kehidupan, keselamatan eksistensi dan kelanjutan manusia, planet bumi dan segala isinya.

Thursday, 9 September 2021

VISI PEMERINTAH SEMENTARA WEST PAPUA: "GREEN STATE"

Oleh Ibrahim Peyon, Ph. D

Green State Vision WEST PAPUA adalah sebuah visi untuk masa depan orang Papua, Indonesia, Pasifik dan seluruh umat manusia di dunia ini. Green State Vision hadir untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang mengancam umat manusia secara global dan ancaman kerusakan planet bumi ini. Perubahan iklum membawa dampak yang serius bagi eksistensi umat manusia di bumi. Di mana telah mengalami kekeringan, kebakaran, banjir, longsor, stunamik, karena meningkatnya suhu kepanasan bumi akibat aktivitas manusia. Dalam rangka mengatasi tantangan perubahan iklim tersebut, bangsa Papua muncul dengan Green State Vision West Papua sebagai solusi untuk memberikan garansi bagi kehidupan manusia, mahluk lain, alam dan keselamatan planet bumi ini.

Green State Vision WEST PAPUA adalah; VISI PAPUA DAMAI dan HARMONI sebagai berikut: 

(1). Green State Vision adalah Visi kedamaian manusia, damai dalam keluarga, damai dengan sesama, damai dengan tetangga, damai di antara etnik, damai dengan bangsa lain, dan damai dengan musuh.

(2). Green State Vision adalah visi damai manusia dengan Tuhan, damai manusia dengan roh, damai manusia dengan roh leluhur, damai manusia dengan kekuatan lain di tanah Papua.

(3). Green State Vision adalah Visi kedamaian Alam dan Lingkungan, kedamaian tanah, kedamaian hutan, kedamaian sungai dan laut, kedamaian gunung, kedamaian dan kenyamanan iklim, suhu dan udara. Damai dengan lingkungan dan kebersihannya.

(4). Green State Vision adalah Visi kedamaian fauna atau hewan, kedamaian burung-burung, reptilia, hewan berkaki empat, Insekta, dan berbagai jenis lain.

(5). Green State Vision adalah Visi kedamaian antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan roh leluhur dan antara manusia dengan kekuatan lain yang dihuni di alam sekitar.

(6). Green State Vision adalah dimana bentuk dan struktur bangunan hijau yang damai dan nyaman. Green State Vision berarti menolak struktur bangunan demokrasi, republik, dominion, kerajaan, serikat dan semua jenis lain konstruksi dari luar.

(7). Green State Vision memiliki filsafat yang hijau, ideologi yang hijau, pandangan yang hijau, kepercayaan yang hijau, perspektif yang hijau. Dengan demikian Green State Vision menolak ideologi kapitalisme, ideologi sosialisme, dll.

(8). Green State Vission adalah visi ekonomi hijau, fiskal hijau, moneter hijau, pengelolaan sumber daya alam hijau, pembangunan ekonomi dan insfrastruktur hijau. 
  
Green State Vision adalah visi dimana manusia berdamai dengan Tuhan, dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Dimana manusia tidak merusak ciptaan lain, tidak memusuhi dan merusak sesama manusia dengan alasan apa pun, manusia tidak merusak dan menggali gunung berlebihan, tidak merusak dan mencemari sungai dan laut, menghormati dan menjaga hak tanah milik perorangan, klen dan suku lain. Manusia tidak merusak hutan, menjaga dan melindungi hak hidup flora dan vauna. Manusia menggunakannya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk masa depan generasi.

Dengan Green State Vision dapat menciptakan kedamaian dunia, keberlanjutan dunia, keselamatan manusia di dunia, dan keselamatan planet bumi. Green State Vision dapat mewujudkan Papua sebagai paru-paru dunia untuk menghasilkan oksigen bagi nafas planet bumi dari kematian.

Green State Vision adalah visi dan misi yang berasal dari filsafat asli Papua dan Melanesia. Filsafat hidup yang sudah ada dan dipraktikkan dan diaktualisasikan oleh orang Papua sejak leluhur, sejak mereka ditempatkan di tanah ini. Green State Vision adalah roh, jiwa dan budaya orang Papua dan bangsa Melanesia di tanah ini, dan falsafah itu diwujudkan dalam visi besar, “Green State Vision WEST PAPUA”.

#WestPapua #GreenState #GreenStateVision